Tuesday, 12 September 2017

Konferensi Internasional, Peran Pemuda Aceh Dalam Memahamai Krisis Kemanusiaan Di Myanmar

Beberapa hal yang bisa saya utarakan setelah mengikuti Konferensi Internasional Terkait Krisis Kemanusiaan Di Myanmar, Peran Pemuda Aceh dalam Memahami Krisis Kemanusiaan Di Myanmar, adalah sebagai berikut
Pemerintah Myanmar hendak mem-Burma kan seluruh Warga Negara Myanmar dengan cara menolak pengakuan terhadap muslim Etnis Rohingya.
Sejarah kependudukan Etnis Rohingya di Rakhine State dihilangkan dan UU Kewarganegaraan di Myanmar tidak sesuai dengan sejarah. Sehingga, Etnis Rohingya dianggap bukan Etnis di Myanmar dan tidak diakui kewarganegaraan, kemudian dikategorikan sebagai Imigran Ilegal di Myanmar.
Myanmar saat ini juga di pengaruhi oleh kekuatan militer, bahkan di Parlemen lebih banyak militer dari pada sipil.
PBB menganggap konflik di Myanmar sejauh ini sebagai Development Crisis, Human Right Crisis dan Security Crisis.
Perlu kita ketahui juga, Rakhine State adalah wilayah pintu gerbang masuk dari arah barat, Rakhine State juga mempunyai Sumber Daya Alam yang melimpah.
Myanmar menganggap Etnis Rohingya sebagai Teroris dikarenakan ada beberapa Etnis Rohingya yang mempunyai senjata. Etnis Rohingya yang memiliki senjata itu sejatinya adalah sebagai pelindung karena ketidakamanan di wilayah nya, sejak di cabut nya hak kewarganegaraan.

Pembicara:

1. Kyaw Win (London -UK/Yangon - Myanmar)
2. Lilianne Fan (Yayasan Geutanjoe)3. Joanne Lauterjung Kelly (Karuna Center for Peacebuilding)4. Daniel Awigra (Program Manager Advokasi ASEAN HRWG)5. Shadia Marhaban (Mediators Beyond Borders International).

Thursday, 3 August 2017

Ber-ENJ ke Simeulue Cut Dimulai

Perjalanan dari ujung ibu kota Provinsi menuju pelabuhan kapal Labuhan Haji biasa bagi seorang putra Singkil yang selalu menempuh waktu 13 jam lintas Singkil-Banda Aceh.
Namun pengalaman kami akan di mulai dari menaiki kapal penumpang Feri pukul 22.00 WIB. Ya, hendak menuju negeri Ate Fulawan (Kabupaten Simeulue). Segerombolan mahasiswa ENJ Unsyiah telah menaiki kapal, para penumpang lain nya sudah berada pada posisi yang di inginkan. Kini, kapal pun akan segera di dayung oleh Nahkoda.
Terlihat banyak penumpang dengan beragam ekspresi, mungkin mereka yang biasa di atas kapal akan menggunakan ekspresi yang biasa. Namun, kami lebih tertarik pada penumpang yang berada di atas kapal, berbaris terlentang dengan tikar, selimut dan baju menghadap langit.
Di sisi lain, teman-teman mahasiswi dan sebagian mahasiswa telah terlelap di kamar bawah kapal, tidur bersama lelah perjalanan darat mereka. Namun, tidak dengan beberapa kawan gila lainnya. Menikmati langit, merasakan dingin malam dan mengobrol dengan laut sepanjang perjalanan laut itu. Kesetiaan pop mie dan air kopi melengkapi obrolan sederhana di atas kapal. Ya, kami mengobrol tentang Ekspedisi di pulau Simeulue.
Sudah 8 jam kami di atas kapal, para penumpang pun berlari menghadap belakang kapal, menyaksikan matahari terbit. Dan sang mentari pun muncul dengan senyum nya di pagi itu, mulai dengan menampilkan pecahan cahaya hingga ia pun menampakkan indah nya dari bawah laut.
Bulat, orange, dan silau. Matahari mengawali hari di pulau Ate Fulawan. Di depan kapal, sudah terlihat daratan Simeulue yang 1 jam lalu masih hanya terlihat kerlip-krlip-kerlip lampu.
Dan kini kami berlabuh, satu per satu langkah kaki turun dari anak tangga, tas berat dan barang bawaan di pikul masing-masing. Kini, resmi kaki kami menginjak tanah Ate Fulawan.
Salam hangat pak Bupati mengawali pagi pertama di tengah manusia yang baru akan kami kenal. Setelah sambutan dari pak Bupati yang di ditemani teh hangat dan kopi itu, hendak lah kami segera menuju Simeulue Cut, tujuan kami.
Setelah di sajikan pemandangan indah selama perjalanan darat Simeulue, tiba kami pada titik kumpul serah terima antara Unsyiah kepada Camat yang di teruskan kepada Kepala Desa masing-masing. Di bimbing kami, menuju desa baru kami.

Penulis : Suhardin Djalal, Mahasiswa KKN Unsyiah ENJ Simeulue Cut 2017

Friday, 21 April 2017

Ku Menghamba Sebagai Manusia

Ku turuti takdir ku menjadi manusia
Ada saja syaitan hendak mengganggu ku
Menunduk aku kepada Tuhan ku
Namun nafsu membimbingku
Mengikat aku padanya
Oh diri enggan saja mengakui bodohnya

Aku hidup tidak berbagai bagai
Aku tertakdir untuk hidup sebagai manusia
Namun cinta Tuhan ku tak bisa ku rasa
Aku mengerdil bersama dosa.

Aku peduli pada anak korban perang
Aku marah pada bom perang
Aku cinta pada agama ku
Aku hidup karena Tuhan ku
Namun pasrah ku tetap pada takdir ku

Usaha
Ya, aku hidup terus berusaha
Dosa,
Aku bekerja terkadang pada nya
Namun manusia
Aku tetap manusia
Menghamba
Aku tetap hamba

Kebodohan aku nikmati
Kesengsaraan aku pikul
Namun ku tahu
Pada Tuhan aku kembali
Dengan apa yang aku bawa
Pada pengasih aku berserah diri

Suhardin Djalal, Banda Aceh 20 April 2017

Wednesday, 12 April 2017

Aku Penjajah

Di lembaran cerita mereka
Aku tampak seperti pejuang yang membela
Seluruh angin ku kendalikan
Tiada bencana yang menyapa mereka
Tak pernah ku minta upah
Tapi
Tanpa izin aku telah merdeka
Aku bebas
Di tempat yang untuk di bagi ini
Sudah banyak bagiku pengorbanan
Aku bangga
Tapi biarkan aku berkelana
Menelusuri apa yang ku mau
Tempat ini aku yang membangun
Kalian hidup dengan keringat ku
Biarlah aku berkelana
Masih banyak yang tak terpenuhi
Aku mau itu
Seluruh yang ku perjuangkan
Ini hidup
Mesti berbagi
Antara pejuang dan yang menerima perjuangan
Kenapa harus bising
Aku punya hak
Untuk mengambil kembali
Tapi ingat
Namaku harus kalau tulis indah
Aku pejuang
Bagi generasi kalian
Aku masih tetap pejuang