Saturday, 29 August 2015

Didemo, Guru Pecat Siswa


SINGKIL - Ratusan pelajar SMA Negeri 1 Singkil, Aceh Singkil, mogok belajar dan melakukan demonstrasi pada Kamis (27/8), memerotes tindakan diskriminasi terhadap murid. Pihak sekolah dinilai tidak menerapkan hukuman yang sama kepada siswa yang melanggar peraturan, seperti melawan guru, merokok, dan memakai seragam tidak sesuai ketentuan.
Kekesalan siswa memuncak hingga berujung aksi mogok belajar, ketika seorang siswa berinisial AS diduga melawan guru, namun tidak dikeluarkan dari sekolah. Sementara, siswa lain yang berkelahi dengan temannya, langsung dikeluarkan. Sikap ini dinilai tidak adil sehingga siswa berunjuk rasa. “Guru telah bersikap diskriminatif, tidak adil,” teriak siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh Singkil, Yusfit Helmi pun menemui siswa, didampingi Kapolsek Singkil, AKP Dodi, Kepala SMA Negeri 1 Singkil, Nazwir dan Ketua Komite Sekolah, Hawani. Perwakilan siswa, Angga Pristi yang merupakan Ketua OSIS, bersedia melakukan dialog di ruang guru.
Dalam dialog tersebut, para siswa menginginkan AS dikeluarkan dari sekolah, dengan alasan pelanggaran yang dilakukannya mengusik ketentraman belajar siswa lainnya. “Karena bukan sekali ini saja ia membuat masalah, kalau bisa dikeluarkan saja,” kata perwakilan siswa.
Keputusan untuk mengeluarkan AS dari sekolah, rupanya bukan perkara mudah bagi kepala sekolah maupun dewan guru SMA Negeri 1 Singkil. Terbukti, dengan tidak adanya kesepakatan dalam musyawarah. Sehingga keputusan untuk mempertahankan atau mengeluarkan siswa yang bersangkutan, diambil melalui pemungutan suara (voting).
Hasil voting, mayoritas guru menginginkan AS dikeluarkan. Keputusan voting itu pun disampaikan Ketua Komite Sekolah Hawani, kepada AS yang kemudian diminta hadir ke ruang guru. Mendengar dirinya dikeluarkan, AS menyatakan tidak menerima. “Saya tetap akan masuk sekolah ini. Berilah kesempatan, mau jadi apa kalau saya tidak sekolah,” kata AS.
Merasa permintaannya tidak diakomidir, siswa kelas II IPS tersebut tiba-tiba berdiri lalu memukul temannya yang merupakan pengurus OSIS, di hadapan para guru. Perbuatan itu segera dilerai guru serta aparat kepolisian yang berjaga. Setelah dinasehati gurunya, sambil menangis AS pun mencium tangan satu per satu guru sebelum ia keluar dari sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh Singkil, Yusfit Helmi, yang memediasi pertemuan siswa dengan guru ini, mangatakan bahwa keputusan menjatuhkan sanksi kepada siswa sepenuhnya ada di tangan pihak sekolah. Meski demikian, ia menyarankan keputusan yang diambil harus bersifat mendidik. “Pemberian sanksi pada siswa ini wewenang sekolah, kami tidak bisa intervensi,” kata Yusfit.
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/08/28/didemo-guru-pecat-siswa

Share this

0 Comment to "Didemo, Guru Pecat Siswa"