Sunday, 6 March 2016

Berkunjung ke Aceh Singkil, Belum Lengkap Bila Belum Mencicipi Gulai Kepiting


Aceh Singkil – Berkunjung ke Aceh Singkil, belum lengkap rasanya, kalau tidak mencicipi gulai kepiting di daerah yang berjuluk negeri Syekh Abdurrauf itu.
Gulai kepiting Aceh Singkil ini, di samping ukuran kepitingnya besar-besar –sudah barang tentu juga–bila lidah sudah mencecap dagingnya cita rasanya amat enak, manis, dan gurih. Plus penuh gizi.  Selera makan menjadi terbuka.  Dijamin ketagihan. Lidah bergoyang-goyang. Maknyusss.
“Barulah terasa lengkap  datang ke Aceh Singkil. Kalau sudah  menikmati sajian gulai kepiting. Kalau belum mencicipinya, gulai kepiting khas kuliner Aceh Singkil ini akan teringat terus.”
Pengakuan ini dituturkan  Pak Munawar SH tamu yang datang dari Banda Aceh kepada AceHTrend, Sabtu (4/3/2016), saat beliau  berkunjung ke Aceh Singkil karena urusan dinas di rumah makan  kawasan Danau Anak Laut Gosong Telaga Barat.
“Kepiting di sini besar-besar. Dagingnya  lebih enak, padat, dan gurih dibanding dengan kepiting daerah lain,”  tambah Pak Munawar.
Kalau kami datang ke sini, jelas Pak Munawar lagi, selalu memesan menu gulai kepiting dan memakannya dengan lahap. Apalagi dalam suasana hembusan angin Danau Anak Laut.
Di samping itu, kata Pak Munawar, ia juga acap membawa kepiting yang masih hidup ke Banda Aceh sebagai oleh-oleh dari Aceh Singkil di samping madu lebah asli.
“Kepiting saya bawa ke Banda Aceh dengan cara memasukkannya dalam kardus lalu diletakkan di mobil. Begitu sampai di rumah, langsung saya minta pada isteri untuk menggulainya. Terkadang saya rebus saja. Saya termasuk orang yang suka kepiting,” pungkas Pak Munawar.
Menu Kepiting
Di rumah-rumah makan Aceh Singkil, hampir semuanya menyajikan menu favorit gulai kepiting selain sate atau gulai lokan. Kepiting tadi, ada yang digulai. Ada juga yang direbus. Saat memakan rebusan kepiting ini, daging yang sudah dikupas dicelup dengan sambal atau saos.
“Di rumah makan kami, menu khasnya kepiting. Hampir setiap hari kami memasaknya. Banyak tamu yang suka,” ucap Putri seorang pramusaji di sebuah rumah makan kawasan Danau Anak Laut, Gosong Telaga Barat.
Asal Kepiting
Kepiting ini, sebelum disajikan di atas meja, ia berasal dari tangkapan para nelayan dari perairan Sungai Gosong Telaga.
Mereka menangkapnya dengan menggunakan alat khusus. Warga setempat menamainya, seruwo, yaitu berupa bundaran sebesar pelak mobil yang dua sisinya dipasang jaring lentur.
Seruwo ini, setelah diletakkan umpan di dalamnya, lalu petang hari menjelang senja, ditahan di perairan sungai yang dangkal. Biasanya di tubir-tubir sungai yang kiri-kananya ditumbuhi banyak hutan mangrove.
Pagi harinya, seruwo ini diangkat. Kalau lagi untung, di dalam jaring seruwo tadi telah masuk satu atau dua ekor kepiting. Ada yang berukuran besar, ada juga yang kecil.
Lantas kepiting ini dikeluarkan dari seruwo. Lalu dengan cekatan nelayan mengikatnya dan menjual kepada pengumpul dengan harga bervariasi.
Kalau  kepitingnya mencapai ukuran sekilo ke atas harganya bisa Rp 60.000 hingga Rp 100.000. Sedangkan ukuran sekilo ke bawah harganya Rp 30.000-60.000.
Oleh pengumpul dijual lagi pada rumah makan dengan harga sedikit lebih mahal. Walaupun mahal, karena ini telah menjadi menu favorit, rumah-rumah makan tadi tetap membelinya.
Rumah makan pun memasaknya dan menyajikannya di atas meja kepada para pengunjung atau pramunikmat yang datang ingin makan. Walaupun satu forsi harganya tergolong mahal, tetap saja banyak yang menggemarinya.
Begitu kepiting disantap aroma dan rasanya menggiur selera dan menggoyang-goyang lidah. Selesai makan, terasa lengkaplah berkunjung ke  Aceh Singkil, negeri para aulia nan batuah.
Sumber : http://www.acehtrend.co/berkunjung-ke-aceh-singkil-belum-lengkap-bila-belum-mencicipi-gulai-kepiting/

Share this

0 Comment to "Berkunjung ke Aceh Singkil, Belum Lengkap Bila Belum Mencicipi Gulai Kepiting"