Tuesday, 15 March 2016

Murid SD di Singkil, Bertaruh Nyawa 'Membelah' Sungai demi Cita-cita


ACEH SINGKIL - Saban hari, belasan pelajar sekolah dasar asal Desa Ujung Limus, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil harus mempertaruhkan nyawa untuk mencapai sekolahnya yaitu SD Negeri 1 Lipat Kajang Bawah, Kecamatan Simpang Kanan.
Mendayung perahu melawan derasnya arus Lae (Sungai-red) Cinendang yang lebarnya mencapai ratusan meter adalah kenyataan pahit yang harus mereka jalani. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Tak perduli peluh membasahi wajah, lelah dan nafas terengah-engah ditengah tariknya matahari. Para bocah-bocah tangguh itu berjuang melawan arus, dengan satu harapan sampai ke sekolah tepat waktu, menimba ilmu dengan selamat.
Usai mengarungi sungai, mereka harus kembali memeras keringat menapaki tebing sungai yang terjal dan curam. Berjalan seratusan meter untuk mencapai sekolah. Sungguh fenomena yang menyesakkan dada bagi siapa saja yang melihatnya.
Tetapi begitulah rutinitas setiap pagi dan jam pulang sekolah yang harus bocah-bocah ini jalankan, demi mengejar cita-citanya. Cara itu terpaksa dijalani lantaran di Desa Ujung Limus hingga kini belum ada sekolah. Sehingga mereka harus rela menyeberangi sungai menuju sekolah terdekat di Lipat Kajang Bawah.
"Desa Silatong ada juga SD. Tapi jaraknya jauh. Kalau pakai kereta (sepeda motor-red) baru bisa, kalau kaki jalan jauh," kata Eka pelajar kelas III SD tersebut.
Eka adalah salah satu dari belasan pelajar asal Ujung Limus yang setiap hari harus menantang maut di sungai Cinendang. Bersama teman-temannya gadis kecil itu menumpangi perahu kecil atau biasa mereka sebut “Bongki”. Setiap harinya mereka berbagi tugas, ada yang mendayung dan ada juga yang menguras air di latai perahu. Tidak hanya siswa laki-laki yang mendayung, yang perempuan juga punya peran sama, salah satunya adalah Eka. Siang itu, Senin (14/3), Eka kebagian tugas mendayung bongki yang ditumpangi teman-temannya.
“Ayo naik,” teriaknya memanggil teman-temannya yang sedang menuruni tebing sungai yang curam.
Meski bahaya, keadaan membuat mereka tertempah menjadi tangguh, tak sedikitpun wajah polos mereka terlihat khawatir saat menuruni tebing sungai dan mengayuh perahu menyebrangi Lae Cinendang. Mereka tampak masih tersenyum dan tertawa ria.
Langkah mereka menuju sekolah baru akan terhenti manakala banjir datang melanda. Saat banjir baik orang tua maupun guru mereka tak akan mengizinkan bocah-bocah itu sekolah. Sebab arus sungai sangat deras sehingga sangat membahayakan nyawa mereka.
“Saat banjir kami tidak sekolah, arusnya deras kali jadi kami tidak dibolehkan nyeberang,” kata Eka sambil berlalu mendayung perahunya.
Pihak sekolah sendiri mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Tahun lalu pihak sekolah terpaksa menggunakan biaya operasional sekolah (BOS)  untuk membayar perahu warga yang disewa untuk menyeberangkan anak-anak tersebut. Namun, takdir berkata lain, pemilik perahu telah meninggal dunia dan belum ada gantinya. Sampai akhirnya para orang tua siswa memiliki perahu sendiri untuk digunakan anak-anaknya.
"Dulu ada warga yang menyeberangkan, ongkosnya dibayar pakai dana BOS.  Tapi setelah pemilik perahu meninggal, tidak ada penggantinya, dan sekarang  anak-anak sudah punya perahu sendiri,” kata Amir seorang Guru SD tersebut.
Amir yang juga merupakan alumni SD 1 Lipat Kajang itu mengatakan, menyeberang sungai menggunakan perahu menuju sekolah dilakukan belasan siswanya lantaran cara itu dapat memperpendek jarak menuju ke sekolah. Jika tak lewat sungai, anak-anak itu harus memutar lewat jalan raya Singkil-Subulussalam yang jaraknya sangat jauh.
"Kalau dari jalan raya jaraknya jadi jauh, makanya mereka memilih menyebrang sungai. Alhamdulillah belum pernah ada yang karam. Kami berharap mereka aman," jelas amir.

Sumber : http://www.ajnn.net/news/murid-sd-pedalaman-singkil-bertaruh-nyawa-membelah-sungai-demi-cita-cita/index.html

Share this

0 Comment to "Murid SD di Singkil, Bertaruh Nyawa 'Membelah' Sungai demi Cita-cita"