Sunday, 15 May 2016

13 Mei 2016 Sanksi FIFA Dicabut, Saatnya PSSI dan Pemerintah Bersinergi

Foto: Ilustrasi/Andhika Akbarayansyah

Jakarta - Pencabutan sanksi Indonesia oleh FIFA diharapkan jadi momentum untuk PSSI dan Pemerintah saling bersinergi untuk kemajuan sepakbola nasional.

FIFA melakukan itu setelah mendapat surat pencabutan SK Pembekuan PSSI yang ditandatangani Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi awal pekan ini.

Pengamat sepakbola, Akmal Marhali, mengatakan bahwa PSSI dan pemerintah sejatinya mempunyai hubungan simbiosis mutualisme. Dia menilai jangan sampai PSSI berjalan sendiri, karena ada pemerintah yang juga memiliki peran krusial.

"Saya melihat pencabutan pembekuan PSSI, kemudian sanksi FIFA bahwa ada satu benang merah bahwa sebenarnya mereka saling memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Tapi kemudian, PSSI tidak tunduk kepada pemerintah, PSSI hanya patuh kepada FIFA, hingga sampai kemudian timbul permasalahan," ujar Akmal dalam diskusi sepakbola yang diadakan Sindo Trijaya FM di Jakarta, Sabtu (14/5).

"Ada yang bisa dilakukan oleh pemerintah bahwa mereka juga punya fungsi tidak hanya masalah grassscrot. Tapi pemerintah punya peran yang sangat besar dalam kompetisi profesional misalnya juga tentang ketenaga kerjaan, seperti UU no 50, juga tentang perseroan, UU no 5, ada undang-undang tentang tenaga asing," sambungnya,

Namun, Akmal juga mengkritisi sikap pemerintah yang dinilai telah menyia-nyiakan momen pembekuan PSSI selama satu tahun, tapi tidak benar-benar membangun fondasi sepakbola Indonesia. Ada banyak permasalahan di dalam PSSI yang seharusnya bisa disikapi oleh pemerintah.

Salah satu contohnya adalah masalah legalitas dan lisensi klub-klub yang belakangan ini menjadi masalah. Tapi hal itu justru tidak diselesaikan secara kongret oleh pemerintah.

"Contohnya masalah legalitas, seperti yang dialami oleh Surabaya United, dalam satu tahun mereka sudah beberapa kali ganti nama. Tidak ada ketegasan di situ, bagaimana legalitasnya. Begitu pula dengan lisensi klub, lisensi klub itu tidak bisa diperjualbelikan. Dan masalah akuisisi dan merger sebuah klub itu tidak ada penjelasan secara transparan." 

Terkait PSSI, lanjut Akmal, satu pekerjaan rumah yang harus diubah oleh PSSI adalah soal perbaikan organisasinya di dalamnya. PSSI disebutnya harus tegas dan jangan melupakan regenerasi di dalam tubuh organisasi itu.

"PSSI jangan lagi memberikan toleransi terhadap aturan-aturan yang ada. Tidak ada lagi faktor like and dislike. Karena selama ini seperti itu, contohnya dualisme klub. Apakah diselesaikan secara hukum, atau musyawarah, bukan faktor like dan dislike," paparnya.

"Harus ada generasi baru karena bisa lebih bergairah, bisa menunjukan progresif tanpa terkontaminasi. Sementara kalau yang lama, agak berat untuk berubah," tutupnya.

Sumber : http://sport.detik.com/sepakbola/read/2016/05/14/130041/3210371/76/sanksi-fifa-dicabut-saatnya-pssi-dan-pemerintah-bersinergi

Share this

0 Comment to "13 Mei 2016 Sanksi FIFA Dicabut, Saatnya PSSI dan Pemerintah Bersinergi"