Catatan Penulis Hari Ini

Berbagilah kepada mereka yang membutuhkan, bersyukur atas segala pencapaian

Friday, 13 May 2016

Kemiskinan, 15 Menit dari Istana Bupati Singkil

ACEH SINGKIL - Gubuk reot beratap bocor menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi keluarga Arianto Syahputra (47), penduduk Desa Ketapang Indah Kecamatan Singkil Utara Kabupaten Aceh Singkil. Gubuk bercat biru pudar itu hanya berjarak 15 menit dari Pendopo Bupati dan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Singkil.

Siapapun yang melihat kondisi gubuk tempat tinggal Arianto bersama Rosmaini sang istri dan 5 orang anaknya itu akan mengelus dada, betapa tidak, selain bangunannya miring dan atap rumah dipenuhi tambalan plastik untuk mencegah air hujan masuk ke dalam rumah, gubuk lapuk berlantai papan itu juga tak luput dari rendaman banjir Rob, maklum letaknya berada di bantaran sungai dan anak laut. 

"Kami sudah tinggal di sini selama lebih dari 15 tahun, inilah yang ada. Inipun bukan milik kami, kami bersyukur ada orang yang mau mengizikan kami tinggal di rumah ini," Kata Arianto Syahputra yang sedang terbaring sakit kepada AJNN, Kamis (12/5).

Tak ada perabotan elektronik apapun dalam gubuk berukuran 7x4 meter itu, bahkan listrik saja tak terpasang, satu-satunya penerangan di malam hari hanya lampu minyak tanah. 

Tumpukan pakaian, peralatan dapur seadanya terlihat menyumpal di sudut kiri, sebuah ranjang kayu lapuk untuk tempat tidur mereka sekeluarga diposisikan di sudut kanan rumah, sungguh ironis memang, akan tetapi pria yang bekerja serabutan itu mengaku tetap bersyukur dengan apa yang ia miliki.

"Saya tetap bersyukur, yang penting saya masih tinggal bersama keluarga saya," ujar Arianto dengan suara parau.

Himpitan ekonomi keluarga Arianto membuat Rosmaini sang istri harus rela banting tulang, mencari Siput di hutan bakau untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pekerjaan itu terpaksa dijalani Rosmaini, sebab sejak Arianto terbaring sakit hanya itulah sumber penghasilan keluarga mereka.

"Istri saya sedang mencari siput, kalau anak anak lagi sekolah, cuma yang paling kecil ikut ibunya mencari siput. Itulah sumber penghasilan kami sekarang," kata Arianto.

Usai meneguk segelas air putih Arianto melanjutkan kisahnya, ia mengaku hampir pernah mendapatkan bantuan rumah rehab dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) tahun 2006 silam. Sayangnya ia urung mendapatkan bantuan rumah itu karena tak memiliki bidang tanah.

"Dulu pernah saya akan mendapatkan bantuan rumah rehab, tapi saya tidak punya tanah, sehingga dialihkan ke orang lain, teman saya dua orang lagi dapat," pernyataannya itu sekaligus menepis kabar yang menyebutkan jika Arianto telah pernah mendapatkan bantuan rumah namun dijualnya.

Saat ditanya apakah ingin memiliki rumah bagus, Arianto pun mengaku sangat mendambakannya, keinginannya itu sama dengan apa yang diinginkan tiga orang putranya yakni Aldi, Afdi dan Arief yang siang itu kebetulan baru pulang dari Sekolah. Tiga bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 2 dan 3 itu sangat mendampambakan rumah layak huni.

"Inginlah, biar enak belajar" kata Arief Bijaksono anak ketiga Arianto yang mengaku bercita-cita ingin menjadi polisi itu.

Impian Arianto dan keluarganya akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, sebab jangankan untuk membeli sebidang tanah, memenuhi kebetuhan sehari-hari saja mereka kelimpungan.

Sumber : http://www.ajnn.net/news/kemiskinan-15-menit-dari-istana-bupati-singkil/index.html?1462455240000
Share:

3 komentar:

Mulya Production said...

Hati2 penulisan sumber, bisa2 diklaim mengambil hak org lain, usahakan menuliskan link sumber dgn backlink yg langsung bisa dikunjungi dgn meklik link na,

Suhardin Djalal said...

OK, terima kasih atas saran nya. Dan Insya Allah kemudian hari akan lebih baik.

Suhardin Djalal said...

Terima kasih atas saran na, di kemudian hari akan di usahaken lebih baik.

Blog Archive

Popular Posts