Catatan Penulis Hari Ini

Berbagilah kepada mereka yang membutuhkan, bersyukur atas segala pencapaian

Friday, 13 May 2016

Predator Anak Merajalela

SINGKIL - Kasus pemerkosaan dan pencabulan anak kembali terulang di Aceh, seperti saat menjelang akhir tahun lalu. Dalam pekan ini tiga kasus baru terungkap, masing-masing di Aceh Singkil, Aceh Barat, dan Kota Banda Aceh. Mirisnya, dalam kasus di Aceh Barat, pelakunya empat orang, berumur 7 hingga 9 tahun, bahkan merupakan teman dan saudara korban.
Sejauh ini, hanya tersangka pemerkosa di Aceh Singkil yang sudah ditangkap polisi, yakni Paaja (22) yang dikenal kawula muda setempat sebagai “pria bertato”. Ia masih lajang dan pengangguran.
Korbannya sebut saja Bunga, murid kelas 1 sebuah SD. Bunga kini hanya berkurung di kamar, tak berani ke luar rumah, lantaran trauma setelah dinodai Paaja yang masih satu kampung dengannya.
“Tersangka melakukan perbuatan itu di belakang sebuah pesantren,” kata Kapolres Aceh Singkil, AKBP M Ridwan, melalui Kapolsek Singkil Iptu Syamsuar, kepada Serambi di Singkil, Rabu (11/5).
Menurut Kapolres, pria bertato itu merenggut kesucian Bunga lantaran terpengaruh video porno yang acap ia tonton. “Tersangka mengaku seperti itu,” kata Kapolres.
Peristiwa itu terjadi 18 April 2016, saat Bunga berada di sekitar pesantren. Tiba-tiba Paaja mendekati dan menyeretnya ke belakang pesantren, lalu terjadilah perbuatan tak senonoh itu.
Bunga menangis histeris dan berlari sekuat tenaga menuju rumahnya. Badan bocah itu gemetar, isak tangisnya tak henti walau ibunya telah berupaya menenangkan dengan cara memeluknya erat-erat.
Ibu korban yang tak terima anaknya dirudapaksa, didampingi kepala desa dan staf Lembaga Bantuan Hukum Perlindungan Anak, pada 26 April membuat pengaduan ke Polsek Singkil. Namun, usaha polisi menangkap tersangka tak bisa dilakukan hari itu juga lantaran ia sudah keburu minggat ke Aceh Selatan.
Polisi baru berhasil menangkap tersangka pada 4 Mei, saat ia pulang kembali rumahnya. Penyidik pun bergerak cepat mengumpulkan barang bukti. Termasuk hasil visum et repertum (VER) yang menunjukkan ada luka bekas terkena benda tumpul di organ intim korban. “Korban juga mengenal pelaku karena masih satu kampung. Polisi pun menangkap tersangka,” kata Iptu Syamsuar.
Menurut Syamsuar, pria pengangguran itu kini mendekam di tahanan Mapolsek Singkil. Penyidik membidiknya dengan Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tentang Perlindungan Anak yang ancaman pidananya minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara.
Predator anak juga beraksi di Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Korbannya, seorang murid perempuan yang masih SD, berumur 10 tahun, warga salah satu gampong di Kecamatan Kutaraja.
Kekerasan seksual itu diungkapkan Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (KP2KB) Kota Banda Aceh, Ir Badrunnisa yang ikut dalam aksi solidaritas “Dari Aceh untuk Korban Kekerasan Seksual” di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Rabu (11/5). “Kami sedang menangani kasus pemerkosaan ini,” kata Badrunnisa.
Kasus asusila itu, menurutnya, terjadi seminggu lalu, tepatnya saat bocah malang itu dijanjikan akan diantar pulang ke rumah oleh tersangka. Namun, dalam perjalanan, tersangka berhenti dan melakukan perbuatan tak terpuji itu.
“Sejauh ini kami belum bisa menjelaskan panjang lebar, karena tersangka belum tertangkap,” kata Badrunnisa.
Ia tambahkan, berdasarkan pengakuan korban, ia tak pernah kenal dengan tersangka pelaku, namun ia bisa terpengaruh saat diajak pulang. Tersangka juga mengiming-imingi korban dengan makan bakso dan minuman gratis.
Di sisi lain, Badrunissa menjelaskan, kasus kekerasan seksual yang menimpa anak perempuan banyak yang tak dilaporkan, karena keluarga menggangap hal itu aib. Padahal, kata Badrunnisa, apabila tidak dilaporkan oleh keluarga justru meninggalkan trauma psikis bagi korban. Pelaku bahkan kemungkinan akan mengulangi perbuatannya.
“KP2KB Banda Aceh sejak medio Januari hingga Mei ini telah menangani 61 kasus kekerasan seksual. Itu yang dilaporkan ke kami. Belum termasuk yang tak dilaporkan,” sebutnya.
Kepala KP2KB Banda Aceh ini juga menyinggung hukuman yang ringan terhadap pelaku, sehingga tak memberi efek jera. “Hukum berat pelaku biar jera,” rekom Badrunnisa.
Dari Aceh Barat dilaporkan, seorang bocah perempuan dicabuli empat tersangka yang berumur 7, 8, dan 9 tahun, disebut-sebut merupakan teman dan saudara korban.
Awak media memperoleh informasi Rabu (11/5) di Meulaboh bahwa tindak asusila itu dilakukan para tersangka pada akhir tahun 2015 ketika korban sedang mandi di sungai di desanya.
Tapi kejadian itu baru ia ceritakan sekitar dua hari lalu kepada orang tuanya, sehingga orang tua korban langsung bereaksi. Ia buat pengaduan kepada aparat kepolisian terdekat agar para tersangka diproses secara hukum.
Ketua Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Aceh Barat, Diah Pratiwi Psi yang ditanyai Serambi kemarin melalui saluran telepon mengakui bahwa pihaknya sedang menangani kasus ini. Ia mengaku korban juga sudah divisum di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh. “Terdapat bekas luka di ‘sana’, diduga akibat pencabulan,” kata Diah Pratiwi.
Menurutnya, kasus ini baru terungkap setelah korban dua hari lalu menceritakan apa yang dialaminya pada Desember 2015 kepada sang ayah. “Kasus ini telah ditangani aparat kepolisian setempat,” kata Diah tanpa menyebutkan kecamatan tempat polsek tersebut berada.
Enam bulan lalu, kasus-kasus pemerkosaan anak terjadi di sejumlah tempat di Aceh. Antara lain di Pidie, Aceh Besar, dan Aceh Barat. Hal itu memicu keprihatinan berbagai kalangan, terutama pegiat hak dan perlindungan anak. Mereka mendesak agar pelaku dihukum berat, sehingga menimbulkan efek jera. Darwati A Gani, Anggota DPRA, bahkan mengusul agar para paedofil itu dikebiri.
Sumber : http://www.tstatic.net/2016/05/12/pemerkosa-kian-merajalela?
Share:

0 komentar:

Blog Archive

Popular Posts