Sunday, 7 August 2016

Kisah Pasutri Mencari Siput di Sarang Buaya


Telapak tangan lelaki kurus itu dipenuhi luka robek tersayat kulit siput yang dipungutnya. Rasa sakit yang menderanya berganti dengan rasa kebas, setelah seharian penuh menyasar dasar sungai demi mengumpulkan satu per satu siput seukuran ibu jari. Lelaki itu bernama Berani. Ia merupakan satu di antara warga trans nelayan Desa Suka Damai yang terbilang nekat mencari siput di sungai air payau yang dihuni buaya ganas di Aceh Singkil.
Bersama istrinya, Siti Rahmah, keduanya bahu membahu menyusuri dasar sungai yang membelah rawa. Rutinitas itu sudah mereka lakoni sejak dua tahun terakhir demi memenuhi nafkah keluarga.
“Pekerjaan lain hanya mocok-mocok (serabutan), makanya pilih mencari siput,” kata Berani, Jumat (15/7) sore. Seperti tak kenal musim, hujan maupun terik matahari, pasangan suami istri yang tak tamat SD ini mulai mencari siput sejak matahari terbit hingga terbenam. Bermodal sampan kecil, keduanya menyusuri dasar sungai. Siput yang didapat dicuci lalu dimasukkan dalam karung.
Selama kurun waktu 12 jam pasutri empat anak ini mampu mengumpulkan sekitar 7 karung siput. Sekarung siput seberat kira-kira 80 kilogram kemudian dijual Rp 30.000. Penghasilan tersebut cukup menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sayangnya, dalam setahun terakhir pencari siput bukan hanya dilakoni Berani bersama istri. Puluhan keluarga yang mengetahui siput laku dijual ke Padang, Sumatera Barat, ikut menjalani profesi serupa.
Tak mengherankan populasi siput bercangkang hitam tersebut mulai langka. Jika sebelumnya siput mudah diperoleh di sungai pinggir jalan raya Singkil-Singkil Utara, kini sudah jarang terlihat. Warga harus mencarinya dengan masuk ke rawa dan sungai pedalaman yang dihuni buaya.
Kelangkaan tersebut menjadi pertanda buruk bagi Berani serta keluarga lain yang menggantungkan hidup dari mencari siput. “Saya belum tahu kalau siput sudah habis, mau kerja apalagi,” ujar Berani sambil melirik sang istri yang terlihat letih membantu mengangkat tumpukan karung berisi siput dari perahu ke pinggir sungai.

Share this

0 Comment to "Kisah Pasutri Mencari Siput di Sarang Buaya"