Friday, 16 September 2016

Sepasang Miskin Tua

Angin berhembus memburu
Empat tiang kayu menopang sepasang tua
Terselimuti oleh lebat hutan
Dengan kegelepan penglihatan mata
Lentera enggan terang
Selembar tikar menutupi sela-sela papan
Menutup kejamnya angin
Tiada sepatah kata kecuali tatapan tanpa tujuan
Sepasang tua kini tertidur
Esok pagi rezki menanti
.
Tamu negara tiba di istana
Di sambut hangat bak sanak saudara
Dituang air minum dengan piala berkilau
Bersenda gurau ceria jabat tangan
AC ruangan menyegarkan gedung beton
Kemudian berpelukan setujui kerja sama
.
Aduhai
Hampir saja roboh empat tiang sepasang tua itu
Terbangun
Bergegas mereka merperbaiki
Tak peduli
Tangan keriput bermusuh dengan angin dingin
.
Huh
Semakin tua dan semakin tua
Mereka di hutan Indonesia
Menikmati rezki yang hanyut di air
Rezki yang bersatu dengan tanah
Mereka tak peduli acara negeri
Mereka hanya perlu makan
Mereka hanya perlu hidup
Mereka hanya perlu senyum
Dan hanya tahu
Betapa megahnya negerinya


Suhardin Djalal                                   Singkil, 2 September 2016

Share this

0 Comment to "Sepasang Miskin Tua"