Thursday, 15 September 2016

Warga Sumut dan Singkil Bentrok


SINGKIL - Ratusan warga perbatasan dari dua provinsi, Aceh dan Sumatera Utara (Sumut), terlibat bentrok pada Selasa (30/8) sekitar pukul 15.00 WIB di Desa Lae Balno, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil. Akibatnya, empat warga terluka kena sabetan senjata tajam dan hantaman benda tumpul. Bentrok itu terpicu gara-gara rebutan lahan persawahan.

Warga yang bentrok itu merupakan penduduk Desa Lae Balno, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil dengan penduduk Desa Saragih Barat, Saragih Timur, dan Tambahan Najur, Kecamatan Manduamas, Tapanuli Tengah, Sumut.

Bentrokan juga menyebabkan tiga sepeda motor (sepmor) dan dua gubuk milik warga Lae Balno di areal persawahan Dusun Perti, Kecamatan Danau Paris, terbakar.

“Bentrok ini dipicu oleh sengketa lahan sawah yang menyebabkan terjadi perkelahian antarkelompok tani,” kata Kapolres Aceh Singkil, AKBP M Ridwan, menjawab Serambi, Rabu (31/8) petang.

Empat korban yang terluka itu adalah Lasniroha Meha dan Toko Berutu, warga Lae Balno. Dua lainnya adalah Belprima, warga Sarmanauli dan Muler Berutu, warga Saragih Barat, Manduamas, Sumut.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Serambi, bentrokan itu bermula saat 50-an warga Saragih Barat, Saragih Timur, Tambahan Najur, dan Sarmanauli, menanam padi di lokasi kejadian, Dusun Perti, Desa Lae Balno, Kecamatan Danau Paris. Secara geografis dan administrasi wilayah, dusun tersebut berada di Provinsi Aceh.

Melihat kawasan mereka ditanami padi oleh warga dari provinsi lain, tiba-tiba enam warga Lae Balno melakukan penghadangan dengan parang panjang di tangan. Sejurus kemudian terjadilah perkelahian massal hingga jatuh korban. Belprima, warga Sumut, terkena sabetan di bagian leher dan pahanya.

Merasa sudah jatuh korban di pihaknya, ditambah rasa takut mulai menyergap, lalu kelompok massa asal Tapanuli Tengah itu lari menyebar ke desa masing-masing untuk menyelamatkan diri.

Tapi tak lama berselang, warga yang tadinya berlarian itu kembali mendatangi enam petani Desa Lae Balno yang sempat menghajar teman mereka. Cuma, kali ini mereka datang dengan ratusan orang lainnya dari kawasan Tapanuli Tengah. Maka, perkelahian tak seimbang pun terjadi di tengah areal persawahan. Alhasil, korban berjatuhan, masing-masing dua orang dari kedua belah pihak.

Setelah menyadari sama-sama ada jatuh korban di pihaknya, para “petarung dadakan” itu pun mundur, sehingga perkelahian tak berlanjut.

Personel polisi dari Polres Aceh Singkil dan Polres Tapanuli Tengah yang dibantu personel TNI tampak bertindak cepat menenangkan situasi. Mereka pun terus berjaga-jaga hingga tadi malam.

Dalam suasana seperti itu, lokasi kejadian pun berangsur kondusif. Aparat keamanan gabungan (polisi dan TNI) tampak siaga mengantisipasi bentrokan antarwarga yang berlainan provinsi itu agar jangan sampai berlanjut. Apalagi upaya damai langsung dirintis beberapa menit pascabentrokan.

“Untuk pengamanan, dibentuk pos penjagaan di dekat lokasi,” kata Kapolsek Manduamas, AKP Enda Iwan, saat ditanya Serambi di sela-sela acara perdamaian antarmereka yang bentrok itu kemarin petang.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/09/01/warga-sumut-dan-singkil-bentrok?page=3

Share this

0 Comment to "Warga Sumut dan Singkil Bentrok"