Wednesday, 12 October 2016

Instrumen Musik Canang Singkil

Singkil–Pemerintah Indonesia, di tahun 2016 ini, telah menetapkan kembali karya budaya masyarakat Aceh sebagai warisan budaya tak benda secara nasional.
Dari delapan karya warisan budaya tak benda yang ditetapkan, dua di antaranya berasal dari Aceh Singkil. Yaitu, Instrumen Musik Tradisional Canang Kayu dan Tari Menatakhein Hinei.
Khusus Instrumen Musik Canang Kayu, merupakan instrumen musik tradisional yang acap dimainkan warga Singkil. Terutama saat mengeringi .petunjukkan tari tradisional pada acara perhelatan.
Menurut keterangan pengamat budaya Singkil Amrul Badri kepada AceHTrend, instrumen musik ini, diracik dari kayu cuping-cuping, sejenis kayu ringan.
Untuk menjadikannya sebagai alat musik, tambah Amrul, tidak terlalu repot. Terlebih dahulu, dicari kayu cuping-cuping berdiameter 2-3 cm yang banyak tumbuh di hutan rawa Singkil.
Lalu kayu tadi, ditebang dan dipotong-potong sepanjang lebih kurang 40 cm. Kemudian kayu tersebut, dibelah dua menyerupai bilah-bilah.
Agar mendapatkan nada yang harmonis dan berbeda satu dengan yang lain, sesuai diinginkan. Kayu dipilih dan dipilah dengan teliti.
Sementara itu, masih menurut Amrul, dalam memainkan instrumen musik ini, dengan dua cara. Pertama, menyusun canang di atas kotak kayu. Dua, ada pula dengan menjejarkannya secara berurutan di atas dua kaki yang diselonjorkan.
Sedangkan jumlah canang kayunya diatur sesuai dengan nada yg dinginkan, ada 3, 4, dan 5.
Canang kayu yang telah disusun tadi, oleh pemain (canangger) dipukul dengan dua potong kayu menyerupai palu terbuat dari bahan kayu padat dan keras.
“Untuk menghasilkan nada yang elok, artistik, dan irama yang harmonis, saat memukul canang, diperlukan perasaan yang halus dan lembut serta sentuhan dari lubuk hati yang dalam. Jika tidak, suaranya akan kacau,” tutur Amrul.
Lebih lanjut Amrul menjelaskan, canang kayu ini, di Singkil lazim digunakan saat mengiringi pagelaran tari tradisional pada acara pesta atau perhelatan.
Di samping itu, dulu instrumen canang kayu ini acap pula digunakan sebagai penghibur hati yang lara dan membunuh kesepian saat istirahat melepas penat dan lelah seusai bekerja di sawah atau ladang.
“Sehingga tak mengherankan, sawah yang menjadi tumpuan hidup warga, selaluramai.” pungkas Amrul Badri alumni UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Nah sekarang, generasi muda harus punya kemauan melestarikan warisan budaya yang telah diakui secara nasional ini. 

Share this

0 Comment to "Instrumen Musik Canang Singkil"