Sunday, 27 November 2016

Anak-anak Tak Sekolah Karena Banjir di Aceh Singkil

SINGKIL-Kedua bocah itu, kulitnya keriput, badan dan bibirnya menggigil setelah berjam-jam bermain dalam genangan banjir yang merendam rumahnya di Desa Ujung Bawang, Singkil, Aceh Singkil, Rabu (23/11). Sudah dua hari, siswa sekolah dasar itu tidak bersekolah.

Aldi dan Mirzan nama anak-anak tersebut, tidak bisa sekolah karena pakaian serta perlengkapannya basah. Mereka memilih menghabiskan waktu dengan mandi air banjir bersama bocah lainnya seusianya. “Sudah dua hari tidak sekolah, karena banjir,” kata Mirzan.
Kedua anak-anak ini merupakan potret tahunan setiap musibah banjir datang merendam pemukiman penduduk Singkil. Siswa tidak bisa sekolah, belum lagi kerugian materi, rumah rusak, tanaman serta hewan peliharan menjadi korban.

Sayangnya walau telah menjadi musibah langganan, sejauh ini belum ada solusi jitu membebaskan wilayah ibu kota kabupaten itu dari banjir. Ketika banjir datang seolah sudah menjadi hal biasa, walau sejatinya sangat memukul perekonomian korban akibat tidak bisa beraktivitas.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh Singkil, Yusfit Helmy mengatakan, setidaknya 17 sekolah mulai tingkat SD hingga SMA sederajat diliburkan, akibat banjir. Masing-masing SD Ujung Bawang, SD Kuta Simboling, SD Pemuka satu, SD Pemuka dua, SD Teluk Ambun, dan SD Takal Pasir.
Lalu SD Rantau Gedang, SD Teluk Rumbia, SD Suka Makmur, SD Kilangan, dan SD Than di Simpang Kanan. Tingkat SMP yang diliburkan, antar alain, SMPN 2 Singkil, SMPN 3 Singkil, SMPN 4 Ujung Bawang, dan MTsN Singkil. Sedangkan tingkat SMA, yaitu SMAN 1 Singkil dan MAN Singkil. “Beberapa sekolah diliburkan akibat dampak banjir,” kata Yusfit.
Sementara itu, sengsara akibat banjir juga dirasakan anak-anak balita. Lantaran bosan terus terkurung di dalam rumah, sesekali orang tuanya mengajak bermain dalam genangan banjir. Bagi yang memiliki perahu cukup terbantu, sebab bisa mengarungi banjir tanpa kebasahan.
Namun, yang tidak punya, para orang tua memanfaatkan alat pelambung seadanya membawa anak-anaknya bermain. Bahkan, ada yang menggunakan styrofoam (busa) tempat menaruh ikan jadi alat angkut anak-anak melewati banjir.

Berdasarkan pantauan hampir semua wilayah Kecamatan Singkil, terendam banjir. Sehingga membuat fasilitas umum, seperti sekolah, perkantoran pemerintah tak bisa bejalan normal. PNS pun tak bisa bekerja karena terjabak banjir setelah akses jalan darat kebanjiran.

Jalan yang terendam banjir hingga menyebabkan transportasi lumpuh sepajang 300 meter di kawasan Ujung Bawang. Kendaraan roda empat dan sepeda motor mengular sepanjang jalan di dekat lokasi banjir. Pengendara tidak semuanya berani menerobos banjir, sebab jalan yang tergenang dalam kondisi rusak serta kedalaman banjir mencapai sepaha.

Apalagi dua pengendara sepeda motor yang nekat menembus banjir di kawasan itu hanyut terbawa banjir. Beruntung pemuda setempat yang siaga di lokasi banjir segera berhamburan membantu korban.Banjir
 yang menggenangi badan jalan Singkil-Singkil Utara, terdapat di dua titik. Kedua lokasi jalan masih dalam tahap pengerjaan, yang anehnya dilakukan menjelang akhir tahun padahal banjir langganan selalu datang.

Banjir tersebut melumpuhkan tranportasi di kawasan perumahan Rekompak, juga di persimpangan jalan Ujung Bawang ke Pea Bumbung. Anehnya jalan tersebut dikerjakan menjelang akhir tahun saat banjir langganan datang.

Di lokasi banjir personel kepolisian bersama TNI terlihat membantu warga menyeberangkan kendaraan. Sementara Pemkab Aceh Singkil, sudah mendirikan dapur umum membantu korban banjir yang tidak bisa masak.

Serambi Aceh Singkili

Share this

0 Comment to "Anak-anak Tak Sekolah Karena Banjir di Aceh Singkil"