Friday, 20 January 2017

Di Persimpangan Makna

Lalu aku tulis bait ini
Ku ikuti alur kemana ia pergi
Tiba aku di persimpangan makna
Kudekap erat pena
Ku bisikkan seru ku
Teruslah menari
.
Sebuah roket baru saja terbang
Tentara baru saja mengasah senjata
Bom telah di bungkus
Anak kambing sedang menyusu
Jin sedang duduk manis
Hati ku masih tak peduli
.
Lalu kulihat angin tersenyum
Hujan mengelus atap rumah
Suara petir merdu
Seekor kelelawar sedang mengemis
Nyamuk memburu asap
Uh, sadar aku malam telah lama tiba
Dan aku tak menyapa
.
Aku tak tahu
Apakah aku mengingat ban bocor sepeda buntut seorang tua
Ataukah aku mengingat kekasih ku yang malang
Atau apa mungkin aku sedang mengingat kawan ku yang hilang
Aku bingung
.
Pena ku kecapekan
Kertas ini menjerit
Ternyata masih ada setan yang menjerumuskannya
.
Aku lalai
Kopi ku sudah mendingin
Biarlah
Esok pagi masih bisu ku minum
.
Ah, jerit ku pernah lebih deras dari pada bom di hiroshima
Air mata ku lebih deras dari pada air terjun niagara
Aku tak bangga

Singkil, 20 Januari 2017

Share this

0 Comment to "Di Persimpangan Makna"